Laporan Pembaruan Ekonomi Indonesia, Kuartal Ketiga 2025
Taruhan bola – Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,04% pada Kuartal III 2025, Didukung oleh Konsumsi Rumah Tangga dan Pemulihan Ekspor yang Kuat
Ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,04% secara tahunan (YoY) pada kuartal ketiga 2025, didorong oleh konsumsi rumah tangga, pemulihan ekspor, dan peningkatan pelaksanaan belanja pemerintah.
Pertumbuhan ini secara umum sejalan dengan pertumbuhan 5,09% pada kuartal sebelumnya dan sedikit lebih tinggi daripada 4,94% pada Kuartal III 2024, yang menunjukkan tren yang stabil di tengah lingkungan global yang penuh tantangan. Secara kuartal ke kuartal (QoQ), PDB tumbuh 1,43%, yang mencerminkan momentum permintaan domestik yang berkelanjutan serta pemulihan perdagangan luar negeri.
Dalam nilai nominal, PDB Indonesia mencapai Rp 6.060,0 triliun pada harga saat ini, sedangkan PDB pada harga konstan tahun 2010 berada di angka Rp 3.444,8 triliun, menurut BPS.
Secara kumulatif, perekonomian tumbuh 5,01% (C-to-C) dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, sehingga target pertumbuhan tahunan pemerintah sebesar sekitar 5% tetap dalam jangkauan.
Kinerja Sektor: Jasa dan Industri Memimpin Pertumbuhan
Dari sisi produksi, Transpo Sektor Transportasi dan Pergudangan tetap menjadi sektor dengan pertumbuhan tercepat, melonjak 9,15% YoY, didukung oleh meningkatnya aktivitas logistik, perjalanan liburan, dan peningkatan pergerakan barang di antara pulau-pulau utama. Sektor Informasi dan Komunikasi menyusul dengan pertumbuhan 7,42%, didorong oleh layanan digital dan permintaan data seluler. Sektor Jasa Keuangan juga naik 6,21%, mencerminkan ketangguhan aktivitas perbankan dan pertumbuhan kredit yang stabil.
Di antara kontributor utama, sektor Manufaktur tumbuh 4,86% YoY, mempertahankan pangsa dominannya terhadap PDB sebesar 18,8%, sementara Perdagangan Grosir dan Eceran berkembang sebesar 4,78%, didorong oleh konsumsi swasta dan meningkatnya kepercayaan konsumen. Sebaliknya, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan melambat menjadi 1,05%, yang mencerminkan faktor musiman dan normalisasi harga komoditas.
Secara kuartal ke kuartal, sektor Pasokan Listrik dan Gas mencatat pertumbuhan tertinggi (+5,42% QoQ), diikuti oleh Transportasi dan Pergudangan (+3,12%), Perdagangan (+2,01%), dan Konstruksi (+1,85%), yang menandakan pemulihan di sektor industri dan aktivitas infrastruktur.
Sisi Pengeluaran: Konsumsi dan Ekspor Mendorong Pertumbuhan
Dari sudut pandang pengeluaran, Konsumsi Rumah Tangga—yang menyumbang lebih dari separuh PDB Indonesia—tumbuh 4,90% YoY, mencerminkan daya beli yang tetap kuat, inflasi yang stabil, serta upaya pemerintah dalam mengelola harga energi dan pangan. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) naik 4,97% YoY, didorong oleh proyek-proyek infrastruktur publik dan investasi di sektor manufaktur.
Dorongan paling signifikan datang dari Ekspor Barang dan Jasa, yang melonjak 7,21% YoY, didukung oleh permintaan yang lebih kuat terhadap batu bara, minyak sawit, dan komoditas logam di tengah pemulihan ekonomi di Tiongkok dan India.
Impor juga meningkat 6,24% YoY, sebagian besar mencerminkan permintaan input yang lebih tinggi untuk barang industri dan barang modal, yang menandakan ekspansi produksi yang sedang berlangsung, bukan ketidakseimbangan yang didorong oleh konsumsi.
Secara kuartalan, ekspor melonjak 6,77%, sementara investasi naik 2,35% dan pengeluaran rumah tangga tumbuh 1,28%, didukung oleh konsumsi selama Idul Adha dan liburan pertengahan tahun. Pemerintah Belanja pemerintah meningkat sebesar 0,63%, yang mencerminkan pencairan lebih awal dana untuk program-program infrastruktur prioritas dalam rangka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025.
Stabilitas Makroekonomi Tetap Terjaga
Fundamental makroekonomi tetap kokoh sepanjang kuartal ketiga tahun 2025. Inflasi umum rata-rata sebesar 2,4%, masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5–3,5%. Metrik fiskal tetap prudent, dengan defisit anggaran dipertahankan di bawah 2,5% dari PDB dan rasio utang publik di bawah 40%, yang mencerminkan komitmen berkelanjutan terhadap disiplin fiskal.
Stabilitas Rupiah, yang didukung oleh intervensi valuta asing yang terarah dari Bank Indonesia serta cadangan devisa yang stabil di atas USD 138 miliar, membantu memperkuat kepercayaan investor meskipun terjadi volatilitas di pasar global. Pertumbuhan kredit domestik tetap moderat, didorong oleh pembiayaan investasi dan pembiayaan konsumsi.
Surplus Perdagangan Indonesia Menguat pada Kuartal III 2025 di Tengah Pertumbuhan Ekspor yang Kuat dan Impor yang Meningkat Sektor eksternal Indonesia tetap menjadi pilar stabilitas pada Kuartal III 2025, meskipun pertumbuhan ekspor melambat di tengah melemahnya Harga komoditas mengalami kenaikan sementara impor tetap stabil, yang mencerminkan ketangguhan aktivitas investasi dan produksi domestik.
Total perdagangan barang pada kuartal tersebut mencapai US$136,3 miliar, turun 1,1% YoY. Ekspor mencapai US$74,4 miliar (-3,1% YoY), sementara impor naik sedikit menjadi US$61,9 miliar (+2,9% YoY). Meskipun permintaan eksternal melemah, Indonesia mencatat surplus perdagangan kuartalan sebesar US$12,5 miliar, menandai surplus bulanan ke-65 berturut-turut sejak Mei 2020.
Ekspor: Sektor Manufaktur Menopang Kelemahan Komoditas Kinerja ekspor pada kuartal ketiga tahun 2025 mencerminkan melemahnya harga komoditas sekaligus kekuatan yang terus berlanjut dalam pengiriman barang olahan. Ekspor batu bara turun 6,4% YoY menjadi US$8,9 miliar, dipicu oleh melemahnya harga patokan.
Minyak sawit dan turunannya turun 7,8% YoY menjadi US$7,8 miliar, di tengah melemahnya permintaan dari India dan Tiongkok.
Ekspor besi dan baja naik 9,3% YoY menjadi US$6,4 miliar, didukung oleh meningkatnya pesanan dari mitra ASEAN dan Timur Tengah.
Produk berbasis nikel dan kimia mencatat pertumbuhan dua digit seiring beroperasinya kapasitas pabrik peleburan baru. Ekspor manufaktur kini menyumbang lebih dari 74 % dari total pengiriman, yang menunjukkan pergeseran bertahap Indonesia menuju produksi bernilai tambah lebih tinggi.
Berdasarkan tujuan, Tiongkok tetap menjadi pasar ekspor terbesar (29,8%), diikuti oleh ASEAN (23,4%), Amerika Serikat (10,8%), dan Uni Eropa (8,5%). Impor: Barang Modal dan Bahan Baku Industri Mendorong Permintaan Impor meningkat sedikit menjadi US$61,9 miliar, didukung oleh belanja infrastruktur dan produksi industri yang berkelanjutan. Impor non-minyak dan gas mencapai US$53,7 miliar, sedangkan impor minyak dan gas mencapai US$8,2 miliar.
Rincian berdasarkan kelompok komoditas menunjukkan permintaan yang terus berlanjut terkait investasi. Barang modal, barang setengah jadi, dan bahan baku secara keseluruhan menyumbang lebih dari 90 % dari total impor, yang menegaskan bahwa pertumbuhan impor terutama didorong oleh kebutuhan produksi, bukan konsumsi. Berdasarkan negara asal, Tiongkok tetap menjadi mitra impor utama Indonesia (33,5 %), diikuti oleh ASEAN (22, 4 %), Jepang (8,7 %), Uni Eropa (7,1 %), dan Amerika Serikat (5,8 %).
Secara kumulatif, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$40,1 miliar untuk periode Januari–September 2025, menurun dari US$47,9 miliar pada periode yang sama tahun 2024.Penurunan ini terutama mencerminkan harga ekspor komoditas yang lebih rendah serta permintaan domestik yang kuat yang mendorong pertumbuhan impor. Meskipun demikian, posisi perdagangan Indonesia tetap kuat menurut standar regional, didukung oleh diversifikasi produk ekspor, kinerja sektor non-minyak dan gas yang stabil, serta pengelolaan impor yang disiplin.
Meskipun kondisi global pada akhir 2025 mengindikasikan melemahnya permintaan komoditas, basis manufaktur yang tangguh dan belanja infrastruktur yang berkelanjutan diperkirakan akan menopang stabilitas eksternal Indonesia hingga kuartal keempat 2025.
Disiplin Fiskal Indonesia dalam Aksi: “Ekonomi Prajurit” Prabowo Mulai Terwujud Pasca Perombakan Kabinet September
Lintasan ekonomi Indonesia mengambil arah yang lebih tegas pada kuartal ketiga 2025, seiring Presiden Prabowo Subianto mulai menerapkan filosofi “ekonomi prajurit”-nya menerapkan filosofi tersebut ke dalam praktik.
Kuartal ini ditandai dengan perombakan kabinet yang tegas pada awal September, yang menempatkan kementerian-kementerian kunci di bawah pengawasan presiden yang lebih ketat, dengan otoritas fiskal memperketat pengendalian atas pengeluaran dan mempercepat penyaluran dana untuk proyek-proyek infrastruktur dan pertahanan, serta memperkuat koordinasi pusat antarkementerian.
Langkah-langkah tersebut secara luas dipandang sebagai implementasi konkret pertama dari pendekatan “perintah dan kendali” dalam tata kelola pemerintahannya. Secara keseluruhan, tindakan-tindakan ini menandakan pergeseran yang jelas menuju koordinasi pusat yang lebih kuat dan pelaksanaan yang lebih cepat, menandai periode pertama di mana gaya kepemimpinan Prabowo memberikan dampak nyata terhadap pengelolaan ekonomi dan tata kelola fiskal.
Anggaran negara tahun 2025 tetap menargetkan defisit konservatif sekitar 2,3% dari PDB, namun perkembangan pada kuartal ketiga mengubah cara pengelolaan anggaran tersebut.
Kementerian-kementerian menerima arahan yang lebih jelas mengenai proyek-proyek prioritas dan diminta untuk melaporkan perkembangan secara bulanan kepada Kantor Kepresidenan dan Badan Pembangunan Nasional. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pengawasan yang lebih ketat ini bertujuan untuk mengurangi masalah pengeluaran yang terus-menerus di bawah anggaran serta mempercepat proses pengadaan dan tender untuk proyek-proyek besar.
Pelaksanaan Anggaran dan Perubahan Kelembagaan
Setelah perombakan kabinet, Kementerian Keuangan memperketat pengendalian pengeluaran dan memprioritaskan pelaksanaan belanja modal. Pihak berwenang mengalokasikan dana di awal tahun untuk serangkaian program strategis, peningkatan transportasi dan logistik, proyek-proyek energi dan pertahanan terpilih, serta inisiatif-inisiatif penting terkait ketahanan pangan, dengan tujuan mewujudkan komitmen kampanye secara nyata. Badan usaha milik negara juga diperintahkan untuk berperan lebih aktif, dengan mandat yang lebih jelas untuk mendukung proyek-proyek nasional dan menyelaraskan rencana investasi dengan prioritas pemerintah.
Perubahan-perubahan ini bersifat operasional; siklus pengadaan dipersingkat di beberapa kementerian, dan sejumlah tender untuk proyek infrastruktur berjalan lebih cepat daripada pada awal tahun. Pada saat yang sama, pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap beberapa dalam pos subsidi dan bantuan sosial guna memastikan keselarasan anggaran dengan tujuan strategis.
Respon Pasar dan Sektor Swasta
Pasar keuangan secara umum tetap stabil sepanjang kuartal ini. Indikator utama, termasuk imbal hasil obligasi dan nilai tukar Rupiah, menunjukkan volatilitas yang terbatas, yang mengindikasikan bahwa investor memandang perubahan kebijakan terkini sebagai langkah yang terukur, bukan sebagai gangguan. Kondisi fiskal tetap berada dalam target resmi, dan permintaan obligasi pemerintah tetap sehat.
Dari sektor swasta, tanggapan yang diberikan terukur, dengan banyak asosiasi bisnis domestik, seperti KADIN, secara umum menyambut baik fokus pemerintah pada pelaksanaan dan disiplin pengeluaran, serta memandangnya sebagai langkah menuju pengurangan keterlambatan proyek. Masih ada penekanan pada perlunya transparansi dan konsistensi dalam pelaksanaan arahan-arahan baru, terutama karena pengawasan pusat yang lebih ketat mengubah pola koordinasi dengan pemerintah daerah dan badan usaha milik negara.
Kesenjangan Pelaksanaan Masih Ada
Meskipun pengawasan yang lebih ketat Meskipun ada pengawasan pusat, tantangan pelaksanaan tetap terjadi di beberapa kementerian dan daerah selama kuartal ketiga tahun 2025. Sementara belanja modal di sektor infrastruktur dan pertahanan mengalami percepatan, pencairan dana untuk bantuan sosial dan transfer ke daerah justru tertinggal dari jadwal. Pelaksanaan yang tidak merata ini mencerminkan kesenjangan kapasitas yang masih berlangsung dalam persiapan proyek dan koordinasi antarkementerian, terutama di tingkat subnasional.
Kementerian Keuangan dan Bappenas telah merespons dengan memperketat mekanisme pemantauan dan menstandarkan prosedur pelaporan, dengan tujuan meningkatkan konsistensi pengeluaran pada kuartal terakhir tahun ini. Langkah-langkah ini menandakan upaya berkelanjutan untuk mewujudkan penekanan Prabowo pada disiplin dan pengendalian menjadi hasil yang lebih seragam di seluruh program pemerintah.
Kesimpulan: Disiplin dengan Kompromi
Kuartal III 2025 memberikan gambaran yang jelas mengenai peralihan pemerintahan dari perancangan kebijakan ke pelaksanaan operasional. Perombakan kabinet dan pengawasan fiskal yang lebih ketat telah menghasilkan tindakan yang lebih cepat terhadap serangkaian prioritas nasional dan menunjukkan bahwa pemerintah siap menggunakan instrumen terpusat untuk mendorong pelaksanaan kebijakan. Disiplin tersebut menjaga kredibilitas kebijakan makroprudensial pada kuartal tersebut, namun juga memperjelas dilema inti: kontrol pusat yang lebih kuat dapat meningkatkan pelaksanaan kebijakan, tetapi berisiko mengurangi fleksibilitas dan kepercayaan sektor swasta jika tidak diimbangi dengan transparansi dan jaminan kelembagaan.
Singkatnya, kuartal ketiga tahun 2025 menandai momen ketika “ekonomi tentara” beralih dari konsep ke praktik, yang menunjukkan kemampuan pemerintah untuk mengerahkan sumber daya negara dengan cepat, sekaligus menyoroti bahwa mempertahankan momentum investasi akan membutuhkan pengelolaan pertukaran antara perintah dan kolaborasi.