6 Syarat yang Harus Dipenuhi Indonesia agar Dapat Mencapai Pertumbuhan Ekonomi 6%, Kata Seorang Analis
Taruhan bola – TEMPO.CO, Jakarta – Mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada tahun 2026 mungkin bukanlah hal yang mustahil bagi Indonesia, menurut para analis ekonomi.
Ajib Hamdani, pakar kebijakan ekonomi dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), berpendapat bahwa meskipun target resmi pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 adalah 5,4 persen, mencapai 6 persen tetap mungkin jika prioritas-prioritas utama ditangani dengan baik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga optimis terhadap pertumbuhan 6 persen, dengan mengutip perbaikan dalam kebijakan fiskal dan moneter sebagai landasan yang kokoh untuk tahun mendatang.
Berikut adalah rincian enam prasyarat strategis yang dikemukakan Ajib untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026.
1. Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas Tinggi
Ajib menekankan bahwa penciptaan lapangan kerja harus melampaui kuantitas dan berfokus pada kualitas. “Tantangan ekonomi mendasar Indonesia meliputi pengangguran dan sektor informal,” katanya.
Investasi harus menyasar sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja formal.
Pemerintah harus menghindari model investasi turnkey atau siap pakai Hal ini berlaku untuk posisi tingkat bawah. Kebijakan harus menerapkan rasio partisipasi angkatan kerja lokal yang jelas dan konsisten.
Gagasan ini sederhana: semakin banyak lapangan kerja berkualitas berarti pendapatan yang lebih tinggi, permintaan domestik yang lebih kuat, dan perekonomian yang lebih tangguh.
2. Kebijakan Fiskal dan Moneter yang Seimbang
Tahun 2025 menandai transisi dalam pendekatan fiskal Indonesia, beralih dari stabilitas yang ketat ke kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan. Ajib mencatat bahwa meskipun gaya fiskal Presiden Prabowo Subianto sesuai dengan pergeseran ini, tantangan tetap ada.
Ruang fiskal yang terbatas, kekurangan penerimaan pajak, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak efisien merupakan masalah yang perlu diperhatikan.
Kebijakan moneter juga harus menjaga inflasi tetap terkendali, sekitar 2,5 persen ±1 persen.
“Prinsipnya jelas: mengumpulkan lebih banyak, membelanjakan dengan lebih baik,” kata Ajib, sambil menekankan pentingnya kebijakan yang selaras.
3. Efisiensi Biaya di Seluruh Sektor Ekonomi
Mengurangi biaya usaha merupakan agenda penting lainnya. Ajib menyoroti perlunya menurunkan biaya kepatuhan, serta menyediakan opsi pembiayaan yang lebih kompetitif serta mengendalikan biaya energi, logistik, dan tenaga kerja.
Efisiensi biaya membuat perusahaan-perusahaan Indonesia lebih kompetitif baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional.
4. Memperkuat Sumber Daya Manusia
Produktivitas dan kualitas tenaga kerja merupakan kunci pertumbuhan yang berkelanjutan. Ajib mengusulkan reformasi pendidikan vokasi dan peningkatan keterampilan, integrasi antara pendidikan, industri, dan dunia usaha, serta penekanan pada literasi digital untuk beradaptasi dengan ekonomi berbasis teknologi.
“Kenaikan upah harus diimbangi dengan produktivitas dan daya saing yang lebih tinggi,” tegas Ajib.
5. Memberdayakan UMKM dalam Rantai Pasokan
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran vital dalam perekonomian Indonesia. Ajib merekomendasikan untuk menghubungkan UMKM dengan BUMN dan sektor swasta, menawarkan insentif fiskal untuk memperkuat daya saing, serta meningkatkan akses ke pembiayaan dan pasar global.
Sektor UMKM yang kuat memastikan pertumbuhan yang lebih inklusif dan integrasi yang lebih dalam ke dalam rantai pasok global.
6. Membangun Landasan untuk Pertumbuhan yang Dipercepat
Menurut Menurut Ajib, kelima prasyarat ini menjadi landasan untuk mencapai pertumbuhan 6 persen. “Dengan kondisi saat ini, pertumbuhan 6 persen memang mungkin tercapai, tetapi angka 5 hingga 5,4 persen lebih realistis,” ujarnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut menyuarakan optimisme ini.
Meskipun terjadi perlambatan ekonomi pada sembilan bulan pertama tahun 2025, ia menyebutkan bahwa peningkatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci penting untuk tahun 2026.
Ia menambahkan bahwa ketidaksesuaian antara penempatan Surplus Anggaran (SAL) dan proyeksi, yang sering disimpan di Bank Indonesia (BI), telah diselesaikan.
“Ke depan, dengan kebijakan yang selaras antara pemerintah dan bank sentral, perekonomian kita akan tumbuh lebih baik daripada saat ini,” kata Purbaya pada 31 Desember 2025.
Target pertumbuhan Indonesia untuk tahun 2026 bergantung pada penciptaan lapangan kerja yang strategis, kebijakan fiskal dan moneter yang efisien, pengurangan biaya, pengembangan sumber daya manusia, serta pemberdayaan UMKM. Dengan langkah-langkah yang tepat, pertumbuhan 6 persen dapat berubah dari sekadar ambisi menjadi kenyataan.