Indonesia mengucapkan selamat tinggal kepada mantan wakil presiden Try Sutrisno.

Indonesia mengucapkan selamat tinggal kepada mantan wakil presiden Try Sutrisno.

Indonesia mengucapkan selamat tinggal kepada mantan wakil presiden Try Sutrisno.

Taruhan bola – 3 Maret 2026 JAKARTA – Indonesia melepas kepergian Wakil Presiden keenam negara dan mantan Jenderal Angkatan Darat Try Sutrisno, yang meninggal di Jakarta pada Senin pada usia 90 tahun, meninggalkan jejak panjang pengabdiannya di militer dan jabatan negara. Try, yang menjabat sebagai wakil presiden dari tahun 1993 hingga 1998 di bawah Presiden Soeharto, meninggal di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di Jakarta Pusat sekitar pukul 07.00 pada Senin, menurut pesan teks dari keluarganya, seperti dilaporkan Antara.

Upacara pemakaman diadakan di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, sebelum pemakamannya di Pemakaman Pahlawan Nasional Kalibata di Jakarta Selatan. Lahir pada tahun 1935 di Surabaya, Jawa Timur, Try tumbuh besar pada masa-masa yang penuh gejolak ketika Indonesia masih disebut Hindia Belanda, sepuluh tahun sebelum kemerdekaannya dari penjajahan Belanda pada tahun 1945. Terpapar dengan kehadiran militer sejak kecil, ia bergabung dengan Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang saat itu dikenal sebagai ABRI, pada tahun 1956 dan Dia diangkat menjadi perwira di Angkatan Darat segera setelah lulus.

Selama bertahun-tahun, Try naik pangkat secara bertahap dalam hierarki militer, menjabat berbagai posisi dan memimpin beberapa komando teritorial, termasuk sebagai ajudan Soeharto dari tahun 1974 hingga 1978 dan kemudian sebagai wakil komandan Komando Militer Udayana yang bermarkas di Bali. Ia kemudian menjabat sebagai komandan komando militer Sriwijaya pada tahun 1979 dan kemudian sebagai komandan komando militer Jakarta dari tahun 1982 hingga 1985, selama periode tersebut terjadi bentrokan mematikan di Tanjung Priok pada tahun 1984. Try kemudian naik pangkat menjadi letnan jenderal dan menjabat sebagai kepala staf Angkatan Darat pada tahun 1986, sebelum diangkat dua tahun kemudian sebagai komandan ABRI.

Ia menerima sejumlah penghargaan nasional dan internasional atas jasanya di bidang militer. Karier militernya berakhir ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) memilih Try sebagai wakil presiden pada tahun 1993, menjadikannya wakil presiden terakhir sebelum Soeharto. Ia memimpin periode yang penuh gejolak pada tahap akhir Orde Baru yang berakhir dengan.

Krisis keuangan Asia. Masa jabatan Try sebagai wakil presiden berakhir pada tahun 1998 dan ia digantikan oleh B.J.

Habibie menjelang pengunduran diri Soeharto. Dalam tahun-tahun berikutnya, Try largely mundur dari politik praktis tetapi tetap aktif dalam kehidupan publik. Sebelum kematiannya, ia menjabat di komite pengarah Badan Pengembangan Ideologi Pancasila (BPIP), berkontribusi dalam pembahasan mengenai filsafat negara.

Ungkapan belasungkawa dan penghormatan berdatangan dari seluruh penjuru negeri atas kabar meninggalnya Try, termasuk dari Kantor Kepresidenan. “Ia adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk negara dan bangsa,” kata Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam pernyataan pada Senin. Presiden Prabowo Subianto, yang sendiri mantan jenderal Angkatan Darat, memimpin upacara pemakaman militer di Pemakaman Kalibata.

“Keterlibatannya [untuk negara] menjadi teladan bagi kita,” kata Prabowo. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan beberapa mantan. Wakil presiden, seperti Budiono dan Jusuf Kalla, serta beberapa menteri dan pejabat negara menghadiri upacara dan menyampaikan penghormatan kepada Try.

“Dia adalah seorang prajurit dan patriot. Dia adalah seorang pemimpin dan teladan bagi keluarganya, dan di atas segalanya, dia adalah seorang negarawan,” kata Yudhoyono kepada wartawan setelah pemakaman, seperti dikutip dari Antara.