Indonesia Berencana Memulai Impor Minyak dari Rusia Bulan Ini

Indonesia Berencana Memulai Impor Minyak dari Rusia Bulan Ini

Indonesia Berencana Memulai Impor Minyak dari Rusia Bulan Ini

Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Bahlil Lahadalia, menargetkan realisasi impor minyak mentah dari Rusia akan terlaksana pada bulan ini. Pemerintah saat ini sedang menyelesaikan detail teknis, termasuk volume pembelian.

“Mungkin untuk minyak mentah, akan dilakukan bulan ini,” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat, 17 April 2026. Selain minyak mentah, pemerintah juga bersiap mengimpor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Rusia. Bahlil menyebutkan bahwa pembahasan mengenai volume LPG masih berlangsung dan belum mencapai keputusan akhir.

Ia menambahkan bahwa rencana impor dari Rusia tidak akan mengurangi impor energi dari Amerika Serikat. Pemerintah, katanya, akan terus menjaga keseimbangan sumber impor untuk memastikan keamanan energi nasional. Mengenai harga, Bahlil menegaskan bahwa nilai transaksi akan mengikuti mekanisme pasar dan hasil negosiasi kedua negara.

Harga domestik yang tinggi Permintaan LPG yang tinggi merupakan salah satu faktor pendorong kebijakan impor. Bahlil menjelaskan bahwa permintaan LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 2 juta ton. Kesenjangan ini membuat impor menjadi langkah yang sulit dihindari.

Permintaan LPG diperkirakan akan terus meningkat seiring beroperasinya fasilitas petrokimia baru, termasuk pabrik milik Lotte Chemical, yang membutuhkan sekitar 1,6 juta ton LPG per tahun. Situasi ini mendorong pemerintah untuk mencari pasokan tambahan dari berbagai sumber. Namun, Bahlil belum merinci volume impor minyak atau LPG dari Rusia.

Ia menekankan bahwa harga akan ditentukan oleh mekanisme pasar dan negosiasi antara kedua negara. Di sisi lain, pemerintah sedang menjajaki peluang investasi dengan Rusia dalam pembangunan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan di Indonesia. Namun, pembahasan mengenai kerja sama ini masih memerlukan beberapa putaran negosiasi lagi.

beberapa hal sebelum mencapai kesepakatan akhir. “Untuk menyelesaikannya, kami masih memerlukan satu atau dua putaran pembicaraan lagi, khususnya terkait kilang dan penyimpanan. Setelah itu, kami akan mengumumkannya,” kata Bahlil.