Tawaran Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik AS-Iran dianggap sebagai langkah yang ‘berani’ namun ‘tidak realistis’
Liga335 – JAKARTA: Tawaran Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran digambarkan sebagai langkah berani oleh para analis, meskipun sebagian berpendapat bahwa rencana tersebut kemungkinan besar tidak akan terwujud karena usulan tersebut dianggap “tidak realistis” dan “hanya sekadar gimmick”. Perang di Iran — yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan di Teheran — telah menjerumuskan Republik Islam tersebut ke dalam ketidakpastian dan mengancam stabilitas regional dan global. Pada Sabtu (28 Februari), sebelum berita kematian Khamenei tersiar, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto siap untuk “memfasilitasi dialog guna membantu memulihkan lingkungan keamanan yang stabil”.
“Jika kedua belah pihak setuju, presiden siap melakukan perjalanan ke Teheran untuk melakukan upaya mediasi,” kata kementerian tersebut dalam sebuah postingan di X. Akbar Kurnia Putra, pakar hukum internasional dari Universitas Jambi, menyebut tawaran mediasi Prabowo sebagai “langkah diplomatik yang cukup berani”, dengan mencatat bahwa respons Indonesia terhadap konflik global di masa lalu telah sebagian besar berfokus pada penyampaian keprihatinan atas meningkatnya ketegangan. Akbar meyakini bahwa usulan tersebut merupakan upaya nyata dari Indonesia untuk menjembatani negara-negara adidaya yang terlibat dalam konflik.
“Jika tawaran ini diterima, ini bisa menjadi momen penting yang mengukuhkan peran Indonesia sebagai pemain global yang konstruktif, dan menunjukkan bahwa kebijakan luar negerinya yang ‘bebas dan aktif’ bukan sekadar retorika, melainkan tindakan nyata — bahkan di salah satu titik panas paling rawan di dunia,” katanya. Namun, seorang mantan diplomat dan beberapa analis lain meragukan rencana Indonesia tersebut, serta apakah tawaran itu akan mendapat respons positif dari Washington atau Teheran. Beberapa bahkan mempertanyakan kewenangan Indonesia untuk mengajukan proposal semacam itu, menganggapnya sebagai langkah untuk menghibur masyarakat domestik.
“Saya bingung mengapa ide ini tidak diperiksa terlebih dahulu sebelum diumumkan ke publik, karena sangat tidak realistis,” kata Dino Patti Djalal, mantan wakil menteri luar negeri Indonesia dan mantan duta besar untuk Amerika Serikat, dalam sebuah pernyataan. Dia mengunggahnya di Instagram pada hari Minggu.