Rupiah Indonesia merosot ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS
Slot online terpercaya – JAKARTA: Nilai tukar rupiah Indonesia menembus angka lebih dari 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya pada Kamis (4 Juni), di tengah lonjakan biaya energi yang menghantam negara ini, sementara para anggota parlemen mengesahkan Rancangan Undang-Undang yang memperluas pengawasan terhadap bank sentral—langkah yang memicu kekhawatiran terkait independensinya.
Bank Indonesia telah mengambil langkah untuk menopang nilai tukar rupiah, yang terus tertekan di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini.
Namun pada Kamis, nilai tukar rupiah menembus batas psikologis 18.000 terhadap dolar AS. Pasar saham negara ini anjlok hampir 4 persen dan telah kehilangan sepertiga nilainya sepanjang tahun 2026.
Sementara itu, parlemen menyetujui amandemen undang-undang yang memperluas mandat Bank Indonesia untuk mencakup tanggung jawab terhadap pertumbuhan ekonomi.
Amandemen tersebut juga memungkinkan para anggota parlemen untuk mengevaluasi kinerja Bank Indonesia.
Pengawasan parlemen yang baru ini juga akan berlaku bagi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang bertugas menjamin simpanan nasabah dan memastikan stabilitas sistem perbankan, serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK), regulator sektor keuangan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pada Rabu bahwa amandemen undang-undang tersebut bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing global, di tengah tantangan yang dihadapi perekonomian Indonesia akibat lonjakan harga minyak dunia.
“Ini bukan hanya soal stabilitas nilai tukar, atau sekadar soal inflasi. Ini juga soal memperhatikan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja,” katanya.
Ekonom Yose Rizal Damuri dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan langkah tersebut memunculkan “pertanyaan mengenai independensi”, terutama jika intervensi parlemen menjadi “rutin”.
“Jika independensi dianggap melemah, risiko tersebut dapat memicu kenaikan premi risiko dan memberikan tekanan pada pasar keuangan,” tambah Kepala Ekonom Bank Sentral Asia, David Sumual.
Masyarakat umum memandang melemahnya rupiah dengan kekhawatiran.
“Hal ini akan menciptakan ketimpangan, kesenjangan yang nyata antara mereka yang berpenghasilan dalam dolar dan mereka yang berpenghasilan dalam rupiah,” kata pensiunan Dia na Murdiana, 60 tahun, mengatakan kepada AFP di ibu kota.