Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen pada kuartal pertama
Liga335 daftar – Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen pada kuartal pertama
JAKARTA
Foto ini memperlihatkan pemandangan cakrawala Jakarta dari udara pada 1 Mei 2026. (Foto oleh BAY ISMOYO / AFP)
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026, demikian disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 6 Mei, melampaui perkiraan pemerintah sendiri meskipun di tengah tekanan akibat perang di Timur Tengah.
Angka tersebut melampaui pertumbuhan 5,4 persen yang tercatat pada tiga bulan terakhir tahun 2025, demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti kepada wartawan di Jakarta.
Pengeluaran rumah tangga menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan tersebut, tambah Amalia.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan peningkatan laju pertumbuhan ekonomi negara di Asia Tenggara ini dari 5,1 persen tahun lalu menjadi delapan persen pada 2029, didorong oleh belanja publik yang tinggi.
Amalia mengatakan belanja pemerintah tumbuh lebih dari 21 persen pada kuartal pertama dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ekonom senior Asia di Capital Economics, Gareth Leather, dalam sebuah pernyataan memperingatkan agar tidak. Menafsirkan angka terbaru secara harfiah karena “pergeseran pemerintah ke arah pembuatan kebijakan yang lebih populis dan intervensionis” serta kesediaannya di bawah kepemimpinan Prabowo untuk “melemahkan batasan-batasan ortodoksi makroekonomi.”
Bulan lalu, Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia dapat bertahan dari dampak kenaikan harga minyak yang dipicu oleh perang di Timur Tengah hingga 10 bulan tanpa memotong subsidi bahan bakar.
Indonesia adalah produsen minyak, namun tetap merupakan importir bersih, dan memberikan subsidi besar-besaran untuk bahan bakar yang dikonsumsi di dalam negeri.
Sekitar seperlima hingga seperempat pasokan minyaknya berasal dari Timur Tengah, namun Jakarta telah menandatangani kesepakatan minyak dengan Rusia dan sedang menjajaki alternatif lain di Afrika, Amerika Serikat, dan Venezuela.
Setiap kenaikan satu dolar pada harga minyak global menambah beban sekitar 6,8 triliun rupiah (sekitar $400 juta) pada anggaran negara.