Memperkuat bukti dan strategi imunisasi di Indonesia

Memperkuat bukti dan strategi imunisasi di Indonesia

Memperkuat bukti dan strategi imunisasi di Indonesia

Slot online terpercaya – Indonesia terus memperluas layanan imunisasi, namun masih terdapat kesenjangan yang signifikan. Beberapa komunitas masih kurang terlayani, sementara ketidaksesuaian antara laporan administratif dan temuan survei menghambat perencanaan yang akurat. Tantangan-tantangan ini menyoroti kebutuhan akan bukti yang andal dan berbasis populasi untuk mengarahkan alokasi sumber daya serta memastikan akses vaksin yang merata di seluruh negeri.

Untuk mengatasi hal ini, mendukung Survei Cakupan Imunisasi Indonesia 2025, yang dilakukan di 38 provinsi, yang menunjukkan bahwa hanya 56,4% anak berusia 12–23 bulan yang telah divaksinasi lengkap. Cakupan vaksin baru, termasuk yang melindungi dari penyakit pneumokokus dan rotavirus, turun di bawah 40% di luar Jawa dan Bali. Selain itu, cakupan vaksin toksoid tetanus di kalangan perempuan juga menurun tajam, dari di atas 70% untuk dosis pertama menjadi di bawah 20% pada dosis kelima.

Ketimpangan tersebut sangat mencolok, berkisar dari cakupan lebih dari 95% di Sulawesi Utara hingga hanya 3,6% di Aceh.
Menurut survei ini, penerimaan vaksin dipengaruhi dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kepemilikan kartu imunisasi, akses terhadap layanan, persepsi pribadi, serta dukungan keluarga atau masyarakat. Namun, kendala logistik dan penggunaan aplikasi SatuSehat yang masih terbatas terus menghambat kelengkapan dan akurasi pelaporan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, survei ini merekomendasikan peningkatan penyelesaian jadwal imunisasi lengkap, melibatkan tokoh masyarakat dalam komunikasi publik, memperkuat alat digital, meningkatkan logistik, menyesuaikan dukungan untuk wilayah dengan cakupan rendah, serta memperluas analisis demografis guna memahami hambatan dengan lebih baik.
WHO juga mendukung Penilaian Kualitas Data untuk memperkuat sistem pencatatan digital. Penilaian tersebut mengidentifikasi kelemahan dalam Registri Imunisasi Elektronik yang digunakan oleh tenaga kesehatan di Indonesia untuk mencatat imunisasi anak, pasokan vaksin, dan logistik rantai dingin.

Penilaian menunjukkan bahwa tingkat keunikan hanya 79%, akurasi pencatatan tanggal 43,9%, dan ketepatan waktu 14,6%. Sementara itu, kelengkapan data Tingkat pelaporan stok vaksin hanya mencapai 32%. Kualitas informasi yang kurang optimal ini menghambat otoritas kesehatan dalam mengidentifikasi komunitas mana yang membutuhkan dukungan tambahan atau mengalokasikan sumber daya secara efektif.

Otoritas kesehatan telah menggunakan temuan survei dan penilaian untuk memprioritaskan provinsi dengan cakupan rendah serta merancang intervensi yang terbukti efektif dalam meningkatkan cakupan vaksinasi. Di Provinsi Banten, hasil penilaian juga dimanfaatkan untuk memperkuat perencanaan logistik dan pelaporan guna mencegah kehabisan stok vaksin, yang terjadi ketika vaksin tidak tersedia akibat keterlambatan pembaruan data stok vaksin.
Tim gabungan Kementerian Kesehatan, GAVI, dan WHO selama misi lapangan pemantauan pada tahun 2025.

Kredit: WHO/Olivi Ondchintia Putilala Silalahi
Seiring dengan peningkatan pengumpulan bukti, Indonesia sedang mengembangkan pendekatan nasional yang terkoordinasi untuk mengatasi penurunan cakupan imunisasi. Kementerian Kesehatan, bekerja sama dengan WHO, UNICEF, UNDP, dan mitra lainnya, telah mengembangkan Rencana Nasional I Strategi Imunisasi 2025–2029. Rencana lima tahun ini berfokus pada perluasan cakupan melalui peningkatan penyampaian layanan, pengenalan vaksin baru, penguatan surveilans penyakit, serta peningkatan manajemen rantai pasokan.

Kelompok Kerja Teknis Imunisasi kini mengoordinasikan upaya para mitra, memantau kemajuan, dan menanggapi tantangan yang muncul.
Langkah-langkah ini penting karena bukti yang kuat dan arahan nasional yang terpadu membantu memastikan bahwa setiap anak, termasuk mereka yang tinggal di komunitas terpencil atau terpinggirkan, dapat mengakses vaksin yang menyelamatkan nyawa. Data yang akurat mencegah adanya celah tersembunyi yang membuat populasi rentan terhadap wabah.

Dengan meningkatkan sistem informasi dan memastikan tindakan terkoordinasi, Indonesia sedang membangun program imunisasi yang lebih tangguh dan mampu melindungi kesehatan generasi mendatang.
Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Australia dan GAVI, Aliansi Vaksin.