Ketika ekstremisme menargetkan anak-anak di ruang digital Indonesia

Ketika ekstremisme menargetkan anak-anak di ruang digital Indonesia

Ketika ekstremisme menargetkan anak-anak di ruang digital Indonesia

Liga335 – Ketika ekstremisme menargetkan anak-anak di ruang digital Indonesia Berita terkait: BNPT memperkuat ketahanan masyarakat untuk menekan ekstremisme Surabaya (ANTARA) – Indonesia—baik masyarakat maupun pemerintahnya—telah menunjukkan ketahanan yang semakin kuat terhadap terorisme dan keyakinan radikal.Negara ini telah mendefinisikan ulang dan memperkuat komitmen kuat terhadap persatuan nasional, sehingga Kepolisian Nasional (Polri) menyatakan negara bebas dari serangan teror sepanjang tahun 2023 dan 2025, dengan mengutip “penegakan hukum yang melindungi.” Namun, tidak ada alasan bagi negara untuk lengah, terutama di tengah taktik yang terus berubah yang digunakan oleh kelompok teroris dan radikal.

Pandangan ini, dalam beberapa hal, didukung oleh fakta bahwa masyarakat merasa terkejut dan bingung oleh dua ledakan yang dilakukan oleh seorang remaja di sebuah sekolah menengah atas di Jakarta Utara pada November 2025, yang melukai 96 orang. Serangan bom di sekolah Jakarta, seperti yang banyak orang sebut, seharusnya secara alami mendorong baik masyarakat maupun pihak berwenang untuk mengambil Mari kita telaah lebih dalam mengenai tren meningkatnya radikalisasi yang menargetkan anak-anak dan menyadari bahwa terorisme tidak pernah terbatas pada latar belakang agama.Hal ini meskipun insiden tersebut tidak secara resmi dinyatakan sebagai serangan teror—setidaknya pada saat artikel ini ditulis.

Satuan Tugas Khusus (Densus) 88, yang dikenal sebagai tulang punggung anti-teror Polri, baru-baru ini mengungkap temuan yang menunjukkan bahwa 70 warga di bawah umur diduga terpapar ekstremisme yang disebarkan melalui komunitas yang disebut True Crime Community (TCC).Beroperasi secara online, TCC diduga secara sengaja memengaruhi anak-anak dan remaja dengan ideologi yang asing bagi Indonesia, seperti Neo-Nazisme dan supremasi kulit putih—kedua ideologi tersebut berakar pada sejarah panjang kekerasan rasial dan diskriminasi sistemik, dan, secara mengejutkan bagi banyak orang, meninggalkan jejak dalam ledakan di Jakarta.Berdasarkan temuan Densus 88, pengaruh TCC paling signifikan di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur, yang, r Secara berurutan, wilayah tersebut menjadi tempat tinggal bagi 15, 12, dan 11 dari 70 anak yang terpapar ekstremisme—semua berusia antara 11 dan 18 tahun, periode yang dianggap paling rentan bagi seseorang untuk terpengaruh oleh penemuan hidup baru, meskipun berbahaya.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah polisi telah mengonfirmasi bahwa anak-anak—atau remaja, untuk lebih tepatnya—tersebut telah terpapar ekstremisme melampaui sekadar konsumsi konten pasif. Beberapa di antaranya menunjukkan indikasi memiliki minat, bahkan pengetahuan, tentang senjata mematikan. Tanpa respons yang efektif, tren ini dapat menimbulkan ancaman nyata bagi keamanan dan ketertiban umum, semakin memperkuat kenyataan yang sulit dibantah bahwa radikalisasi telah merasuki ruang digital—sebuah ranah yang terus berkembang dan terbukti berpengaruh dalam membentuk keyakinan, sikap, dan karakter individu dalam masyarakat yang semakin terdigitalisasi.

Radius Setyawan, seorang analis budaya dan media di Universitas Muhammadiyah Surabaya, mencatat fenomena ini sebagai refleksi dari krisis produksi nilai. n di ruang digital. Seperti yang telah ditunjukkan oleh sejarah, ideologi radikal seperti neo-Nazisme dan supremasi kulit putih telah memicu kekerasan bermotif rasial, terutama di Amerika Serikat dan Eropa.

Namun, dalam lingkungan digital saat ini, simbolisme yang terkait dengan ideologi-ideologi tersebut sering kali dipisahkan dari konteks historis dan etisnya. Ekstremisme semakin menjangkau audiens muda melalui media yang halus dan tampaknya tidak berbahaya, seperti meme, narasi sensasional, atau diskusi komunitas online yang santai.Dinamika ini memungkinkan simbolisme ekstremis menarik perhatian anak-anak dan remaja tanpa mereka memahami asal-usul ideologis atau konsekuensi historisnya.

Jauh dari menjadi ruang netral, ranah digital telah, dalam beberapa hal, dimanfaatkan untuk menarik individu—termasuk anak di bawah umur—ke dalam kekerasan simbolis dan, potensial, kekerasan di dunia nyata. Temuan tentang radikalisasi anak oleh Densus 88 telah mengungkap tantangan baru bagi sektor pendidikan Indonesia dan mendorong pemerintah provinsi Jawa Timur untuk r Meningkatkan tingkat kewaspadaan. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai memperingatkan bahwa ruang digital menarik anak-anak ke lingkungan yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat.

Tanpa bimbingan, pengawasan, dan literasi digital yang memadai, ia mengingatkan, risiko paparan terhadap konten berbahaya meningkat secara signifikan.Sebagai tanggapan, kantor tersebut bergerak secara proaktif untuk mengurangi risiko keyakinan atau dorongan kekerasan di kalangan siswa SMA, termasuk seruan yang lebih intensif agar sekolah menciptakan lingkungan aman di mana siswa dapat tumbuh dan berkembang. Sama pentingnya adalah penerapan pendekatan literasi digital yang reflektif—memastikan siswa tidak hanya mahir menggunakan gadget dan aplikasi, tetapi juga mampu berpikir kritis, memahami konteks, mengidentifikasi narasi manipulatif, dan mengenali konsekuensi sosial yang lebih luas dari konten yang mereka konsumsi.

Upaya ini melengkapi inisiatif untuk memperkuat pendidikan kewarganegaraan dan meningkatkan peran guru konseling dan guru kelas. Dalam deteksi dini paparan ekstremisme. Pendidik didorong untuk meningkatkan kepekaan mereka terhadap perubahan perilaku di kalangan siswa.

Untuk memperkuat batasan digital di sekolah, pemerintah provinsi berencana memperkenalkan peraturan penggunaan gadget, memantau kegiatan ekstrakurikuler, meninjau komunitas online yang diikuti siswa, dan menetapkan mekanisme pelaporan yang menghindari stigmatisasi. Pada saat yang sama, otoritas berupaya memperkuat koordinasi antara sekolah dan keluarga sambil mendorong kolaborasi dengan kementerian terkait, lembaga keamanan, dan lembaga perlindungan anak—menangani akar penyebab radikalisasi daripada mengandalkan langkah reaktif atau hukuman semata.Inisiatif ini sejalan dengan upaya nasional untuk melawan indoktrinasi anak, dengan Densus 88 melaporkan lima penangkapan pada 2025 dan memberikan bantuan kepada 68 anak yang terpapar ideologi kekerasan.

TCC dan kelompok serupa telah meninggalkan bekas psikologis yang dalam, memaksa Indonesia untuk menghadapi dampaknya. Dampak ekstremisme digital terhadap kesehatan mental dan kognitif anak-anak. Episode ini memberikan peringatan yang mengkhawatirkan tentang bagaimana ideologi radikal dapat merasuki ruang digital di bawah selubung yang hampir tak terlihat.

Dalam konteks ini, pendidikan yang berorientasi pada dampak diharapkan dapat membina generasi muda Indonesia yang tidak hanya unggul secara akademis tetapi juga memiliki kemampuan berpikir reflektif, empati sosial, dan ketahanan terhadap ideologi kekerasan.