Indonesia menyatakan bahwa pemulihan lingkungan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.

Indonesia menyatakan bahwa pemulihan lingkungan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.

Indonesia menyatakan bahwa pemulihan lingkungan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia.

Liga335 daftar – Indonesia menyatakan bahwa pemulihan lingkungan sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia Berita terkait: Pemerintah menjamin jaminan hukum bagi akademisi dalam audit lingkungan Berita terkait: Kementerian mempertimbangkan berbagai faktor untuk pemulihan lingkungan Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono memperingatkan bahwa pemulihan lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan persyaratan mutlak bagi kelangsungan hidup manusia. “Kita harus hidup berdampingan dengan pohon, dan idealnya setiap orang menanam setidaknya satu pohon. Oksigen adalah kebutuhan dasar manusia, jadi jika seseorang belum pernah menanam pohon, orang itu bukan manusia,” kata Diaz dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta pada Selasa.

Diaz, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), mencatat bahwa manusia membutuhkan sekitar 0,5 kilogram oksigen per hari, sementara satu pohon dapat menghasilkan hingga 1,2 kilogram oksigen per hari. Perbandingan ini, katanya, menunjukkan sejauh mana keberadaan manusia bergantung pada pelestarian kehidupan tumbuhan. Menurut Diaz, penanaman pohon merupakan wujud nyata dari kemanusiaan dan tanggung jawab dalam menanggapi krisis iklim global.

Pernyataan tersebut ia sampaikan selama kampanye penanaman pohon di North Tapanuli, North Sumatra, pada Minggu (11 Januari), bersama Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim dan Transisi Energi, Hashim Djojohadikusumo.Pada kesempatan yang sama, Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim dan Transisi Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan Indonesia sering kali menjadi korban utama dampak perubahan iklim, meskipun penyebab utamanya berasal dari negara-negara maju. Hashim menyoroti ketimpangan yang mencolok dalam emisi karbon, dengan rata-rata warga Indonesia menghasilkan sekitar tiga ton emisi per tahun, sementara individu di negara-negara maju dapat menghasilkan hingga 13 ton per tahun.

“Seperti yang disampaikan oleh wakil menteri, perubahan iklim tidak dapat diatasi dalam jangka pendek, karena penyebabnya berasal dari bagian lain dunia. Ini adalah kenyataan pahit bagi Indonesia,” kata Hashim. Inisiatif penanaman pohon di No Rth Tapanuli juga berfungsi sebagai langkah strategis untuk mitigasi bencana hidrometeorologi.

Sebagai wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, Tapanuli Utara memainkan peran krusial dalam mencegah banjir dan longsor, yang menelan lebih dari 1.000 korban jiwa pada November lalu.