Indonesia menjadi tuan rumah simposium tentang pengaruh media terhadap praktik keagamaan.
Liga335 – Sebuah simposium internasional mengumpulkan para akademisi dan praktisi untuk merefleksikan dampak transformatif media digital terhadap agama dan budaya di seluruh Asia Tenggara. Oleh Pastor Mark Robin Destura, RCJ Sebuah simposium internasional bertajuk âMedia, Agama, dan Budayaâ diselenggarakan pada tanggal 19â21, 2026, di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero (IFTK Ledalero) di Flores, Indonesia Timur. Acara selama tiga hari ini mengumpulkan para akademisi, peneliti, dan praktisi dari Indonesia, Filipina, Thailand, dan Australia.
Simposium ini diselenggarakan bekerja sama dengan Asian Research Center for Religion and Social Communication dari St. John’s University, Thailand.
Tujuan simposium ini adalah untuk mengkaji bagaimana kemunculan media digital mengubah praktik keagamaan dan kehidupan budaya di seluruh Asia Tenggara.
Peserta mendiskusikan baik peluang maupun tantangan yang ditawarkan oleh lingkungan digital, terutama dalam masyarakat yang ditandai oleh keragaman agama dan budaya yang kuat. Tradisi. Agama digital dan tanggung jawab Pada pembukaan simposium, Rektor IFTK Ledalero, Prof.
Dr. Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, menekankan dimensi etis dan politik dari agama digital. Menurut Radio Veritas Asia, ia mengatakan bahwa agama digital harus dipahami sebagai bidang yang dibentuk oleh kekuasaan, etika, dan tanggung jawab.
âTeknologi digital tidak netral,â katanya. âIni adalah arena politik dan etika di mana identitas agama, norma moral, dan kewarganegaraan terus dinegosiasikan.â Ia merefleksikan peran sistem algoritmik yang membentuk narasi online, alat yang digunakan baik oleh pemerintah dalam tata kelola maupun oleh Gereja dalam pewartaan.
Ia menyerukan ârefleksi kritisâ terhadap keterlibatan digital untuk melindungi âkebebasan beragama, pluralisme, dan hak asasi manusiaâ dalam masyarakat yang semakin dimediasi. Menjelma yang suci di era digital Pembicara utama pertama, Benjamina P. Flor dari Universitas Filipina, menyampaikan presentasi.
Berjudul “Menghayati yang Suci di Era Digital: Pendekatan Komunikasi.” Ia meneliti bagaimana praktik spiritual terus dibentuk ulang setiap hari melalui komunikasi digital.
Seperti dilaporkan oleh Radio Veritas Asia, ia menjelaskan, “ibadah online tidak boleh dipandang sekadar sebagai pengganti pertemuan fisik, melainkan sebagai penataan ulang pengalaman suci.
Melalui praktik komunikasi yang dimediasi teknologi, yang suci terus diwujudkan dan dipertahankan.” Ia sering menggunakan frasa “mengwujudkan yang suci” untuk menggambarkan bagaimana kehadiran suci dapat dirasakan bahkan dalam ruang digital.
Ia menekankan bahwa dengan “niat tulus dan tanggung jawab moral, ibadah digital dapat memupuk koneksi spiritual yang autentik.”
Agama, media, dan budaya Pembicara utama lainnya, Pastor Anthony Le Duc dari Asian Research Center for Religion and Social Communication, fokus pada hubungan antara agama, media, dan budaya. Ia mengatakan, “Agama selalu diekspresikan melalui kultus Bentuk-bentuk keagamaan, bahasa, simbol, ritual, dan praktik sehari-hari. Saat ini, banyak dari ekspresi ini berlangsung di ruang digital.
â
Seperti yang dikutip oleh Radio Veritas Asia, Pastor Le Duc menjelaskan bahwa âmedia tidak hanya menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga secara aktif membentuk cara agama diwakili, ditafsirkan, dan dinilai dalam imajinasi publik.â Dalam konteks keragaman agama dan budaya di Asia Tenggara, narasi digital dapat menjadi alat solidaritas atau sumber perpecahan.
Dialog dan perspektif regional Simposium tersebut juga menampilkan diskusi panel tentang platform media sosial, komunikasi agama, dan pembangunan perdamaian.
Peserta panel meliputi Alexander Flor dari Universitas Filipina, Ronald Epafras dari Universitas Gadjah Mada, dan Pastor Anthony Le Duc. Pembahasan mereka menyoroti pentingnya komunikasi yang bertanggung jawab, terutama dalam masyarakat multikultural dan multireligius di mana konten digital dapat secara signifikan mempengaruhi persepsi publik dan interaksi antaragama. Hubungan keagamaan.
Membentuk pemimpin untuk era digital Simposium ini berfungsi sebagai platform untuk membekali para cendekiawan, peneliti, dan praktisi—terutama mereka yang terlibat dalam platform digital, pembinaan pastoral, dan pendidikan.
Di wilayah di mana komunikasi digital telah terintegrasi secara mendalam dalam proses pembelajaran dan praktik pastoral, pemahaman tentang hubungan antara media, agama, dan budaya semakin penting. Melalui dialog akademis dan refleksi kritis, peserta menegaskan bahwa lingkungan digital bukan hanya ruang teknologi, tetapi juga batas budaya dan spiritual.
Dengan mengkaji dimensi etis, komunikatif, dan keagamaannya, simposium ini memberikan kontribusi penting dalam menavigasi lanskap yang terus berkembang antara media dan keyakinan di Asia Tenggara.