Indonesia mengembangkan peraturan baru untuk mengatasi konsumsi makanan tidak sehat.

Indonesia mengembangkan peraturan baru untuk mengatasi konsumsi makanan tidak sehat. Illustration of sugar in various food items

Indonesia mengembangkan peraturan baru untuk mengatasi konsumsi makanan tidak sehat.

Slot online terpercaya – Indonesia menghadapi krisis kesehatan yang semakin parah. Makanan olahan yang mengandung lemak jenuh, lemak trans, gula, dan garam dalam jumlah berlebihan kini mendominasi pasokan makanan di negara ini. Produk seperti minuman manis, camilan asin, dan mie instan semakin populer karena harganya murah, mudah didapat, dan dipromosikan secara intensif kepada konsumen.

Akibat kesehatan yang ditimbulkan sangat serius. Faktor risiko diet kini menjadi kontributor ketiga terbesar terhadap kematian dan kecacatan di seluruh negeri. Lebih dari setengah kematian akibat penyakit jantung dapat dikaitkan dengan kebiasaan makan yang tidak sehat, serta hampir sepertiga kematian akibat stroke dan hampir seperlima kematian akibat diabetes.

Tingkat obesitas pada dewasa melonjak dari 15,4% menjadi 23,4% dalam sepuluh tahun, sementara hampir seperlima remaja kini kelebihan berat badan. Yang mengkhawatirkan, hampir setengah populasi di atas usia 3 tahun mengonsumsi lebih dari satu minuman manis ber gula setiap hari, namun hanya 3,3% dari mereka yang berusia 5 tahun ke atas mengonsumsi minimal lima porsi buah dan sayur yang direkomendasikan. Sayuran setiap hari.

Sebagai tanggapan, pemerintah berhasil mengadvokasi penerapan langkah-langkah terbaik dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, yang disahkan pada 26 Juli 2024 dan memberikan waktu dua tahun bagi pemerintah untuk mengimplementasikannya. Peraturan baru ini mewajibkan label wajib di bagian depan kemasan makanan, penandaan menu untuk makanan siap saji, dan reformulasi produk untuk mengurangi garam, gula, dan lemak. Peraturan ini juga membatasi cara makanan tidak sehat diiklankan, memperkenalkan kemungkinan pemungutan pajak atas produk-produk tersebut, dan menetapkan zona makanan sehat.

Selain itu, peraturan ini membatasi penggunaan bahan-bahan yang berisiko menyebabkan penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit jantung. Langkah-langkah inovatif ini akan meningkatkan lingkungan makanan di Indonesia sesuai dengan pedoman WHO.
Selama tahun 2025, WHO bekerja sama erat dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia untuk menciptakan peraturan teknis yang diperlukan untuk menerapkan langkah-langkah ini.

WHO mendukung The George Institute for Global Health untuk Membantu BPOM dalam mengembangkan acuan natrium nasional untuk makanan olahan. Hal ini dilakukan melalui diskusi teknis, konsultasi ahli, dan kelompok fokus yang melibatkan lembaga pemerintah, akademisi, organisasi profesional, dan kelompok masyarakat sipil. Rancangan acuan tersebut, yang saat ini sedang disempurnakan melalui konsultasi nasional, akan menetapkan batas maksimal natrium untuk kategori makanan yang paling berkontribusi terhadap konsumsi garam.

Dialog kebijakan tentang pembatasan pemasaran makanan tidak sehat. Kredit: BPOM
WHO juga mendukung BPOM dalam mengembangkan rekomendasi kebijakan untuk pembatasan pemasaran makanan tidak sehat. Dialog kebijakan dengan pemangku kepentingan meninjau praktik terbaik global dan undang-undang nasional yang ada untuk mengembangkan langkah-langkah yang sesuai dengan konteks Indonesia.

Rekomendasi kebijakan ini akan menjadi acuan bagi BPOM dan kementerian lain dalam menyusun peraturan di masa depan. Dwiana Andayani, Direktur Standarisasi Makanan Olahan di BPOM, mengatakan, “Kolaborasi BPOM–WHO diharapkan dapat berkontribusi. e dalam mengurangi konsumsi berlebihan makanan tinggi garam, gula, dan lemak.

BPOM mendesak semua pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam membangun sistem pangan yang lebih sehat, sehingga dapat membentuk generasi yang lebih sehat, produktif, dan kompetitif di masa depan.”
Perubahan regulasi ini penting karena membentuk apa yang dikonsumsi oleh masyarakat. Ketika diterapkan, intervensi ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi makanan tidak sehat dan menurunkan risiko penyakit kronis di kalangan populasi Indonesia.

WHO Indonesia akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk menyempurnakan standar natrium, menerapkan peraturan pembatasan pemasaran, dan mengimplementasikan label wajib di bagian depan kemasan makanan kemasan.