Indonesia meluncurkan platform digital untuk suvenir Haji dari UMKM lokal.
Liga335 – Indonesia meluncurkan platform digital untuk suvenir haji dari UMKM lokal Berita terkait: Indonesia memenangkan kesepakatan bersejarah untuk membangun Desa Haji di Mekah
Berita terkait: Kementerian akan mengoptimalkan saluran Kawal Haji untuk menampung keluhan Jakarta (ANTARA) – Kementerian Haji dan Umrah sedang mengembangkan platform digital inovatif untuk suvenir yang terintegrasi dengan produk dalam negeri terkemuka.Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah di kementerian, Jaenal Effendi, mengatakan bahwa banyak suvenir yang dijual di Arab Saudi, seperti tasbih dan karpet shalat, sebenarnya diproduksi di Indonesia.Oleh karena itu, kementerian berencana memangkas rantai pasokan agar jamaah haji dapat membeli produk langsung dari produsen lokal tanpa membelinya di Tanah Suci.”
Kami sedang mengembangkan platform untuk suvenir haji. Sehingga sebelum mereka tiba di rumah, suvenir mereka sudah tiba terlebih dahulu. Kami tidak perlu berinvestasi atau mengeluarkan banyak uang di luar negeri, tetapi produk dibeli di Indonesia,” ujarnya di Pondok Gede.
Asrama Haji yang berlokasi di Jakarta pada Selasa. Dia menyebutkan beberapa produk potensial, seperti kurma dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang konon memiliki kualitas gizi tertinggi ketujuh di dunia. Demikian pula, banyak manik-manik salat yang dijual di pasar Mekah berasal dari Jepara, sementara produk cokelat berasal dari Garut.”
Tali tasbih di Arab Saudi ternyata berasal dari Jepara. Cokelat dari Garut juga memiliki potensi. Itu adalah tugas kami untuk mengidentifikasi dan memetakan produk yang dapat diolah menjadi suvenir,” katanya.
Menurutnya, kementerian juga berencana mengadakan “Pameran Suvenir Haji UMKM”, yang dibagi menjadi tiga zona—timur, tengah, dan barat Indonesia—, yang bertujuan untuk menyaring produk yang cocok dijual kepada jamaah haji.Dengan skema ini, katanya, jemaah tidak perlu membawa beban berat dari Arab Saudi dan dapat memesan melalui aplikasi, dengan barang dikirim langsung ke rumah mereka. Ia optimis skema ini akan populer.
Berdasarkan ketersediaan. Menurut data, rata-rata peziarah membeli hingga 20 kilogram suvenir. Jika potensi pengeluaran ini dialihkan ke UMKM lokal, hal ini akan memberikan dampak ekonomi positif bagi pusat-pusat produksi di Indonesia.