Penyakit Hati Berlemak Mulai Mengintai pada Orang Usia 30-an, Dosen FKGiz Universitas IPB Menekankan Pentingnya Perubahan Gaya Hidup

Penyakit Hati Berlemak Mulai Mengintai pada Orang Usia 30-an, Dosen FKGiz Universitas IPB Menekankan Pentingnya Perubahan Gaya Hidup

Penyakit Hati Berlemak Mulai Mengintai pada Orang Usia 30-an, Dosen FKGiz Universitas IPB Menekankan Pentingnya Perubahan Gaya Hidup

Slot online terpercaya – Kasus hati berlemak, yang juga dikenal sebagai penyakit hati steatosis terkait disfungsi metabolik (MASLD), semakin banyak ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda, terutama mereka yang berusia 30-an.
dr. Widya Khairunnisa Sarkowi, M.

Sc., seorang dosen di Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz), menjelaskan bahwa hati berlemak terjadi akibat penumpukan lemak di hati, yang berkaitan dengan gangguan metabolik.
Menurutnya, penyakit ini sering dijuluki sebagai pembunuh diam-diam karena berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan tanda-tanda klinis yang jelas dan dapat menyebabkan kerusakan hati permanen.

“Banyak orang merasa sehat, tetapi ketika diperiksa melalui ultrasonografi (USG) atau tes enzim hati, fatty liver sudah terdeteksi. Orang dengan obesitas, diabetes mellitus, atau gangguan metabolik lainnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami hati berlemak,” ujarnya.
Secara global, prevalensi hati berlemak diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dan terus meningkat.

Sementara itu, menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi Prevalensi obesitas di kalangan orang dewasa meningkat dari 21,8 persen pada tahun 2018 menjadi 23,4 persen pada tahun 2023. Prevalensi obesitas sentral di kalangan penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 36,8 persen.
Menurut dr.

Widya, angka-angka tinggi ini merupakan indikator kuat meningkatnya masalah metabolik di masyarakat, seperti obesitas, obesitas sentral (atau perut buncit), diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, pola makan tinggi gula dan kalori, serta kurangnya aktivitas fisik.
Namun demikian, ia mencatat bahwa hati berlemak tidak hanya menyerang orang yang kelebihan berat badan. Orang dengan berat badan normal pun tetap dapat mengalami hati berlemak jika memiliki perut buncit, resistensi insulin, diabetes, pola makan tinggi gula, atau kurangnya aktivitas fisik.

Dr. Widya menambahkan bahwa hati berlemak bukan sekadar masalah pada hati itu sendiri, melainkan penanda adanya gangguan metabolik di seluruh tubuh. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah tergoda oleh solusi instan seperti suplemen, produk detoks, atau ramuan herbal yang terkait klaim “membersihkan hati.


“Pengobatan saja tidak cukup tanpa disertai perubahan gaya hidup. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah dan mengobati hati berlemak,” jelasnya.

Lima Langkah Pencegahan

Sebagai langkah pencegahan, dr. Widya membagikan lima pesan edukasi penting yang sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pertama, turunkan berat badan secara bertahap.

Menurunkan sekitar 5–10 persen berat badan diketahui dapat mengurangi lemak hati, peradangan, dan risiko fibrosis.
Kedua, kurangi konsumsi minuman manis seperti teh manis, kopi dengan kandungan gula tinggi, minuman boba, soda, minuman kemasan, dan sirup, yang merupakan sumber gula cair berkalori tinggi. “WHO merekomendasikan agar asupan gula bebas kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen,” ujarnya.

Ketiga, terapkan pola makan seimbang di mana setengah piring terdiri dari sayuran dan buah-buahan, seperempatnya protein, dan seperempatnya Seperempat dari asupan karbohidrat. Masyarakat juga disarankan untuk membatasi konsumsi makanan ultra-olahan, makanan goreng, makanan manis, dan camilan berkalori tinggi.
Keempat, lakukan aktivitas fisik secara teratur.

WHO merekomendasikan aktivitas fisik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau sekitar 30 menit sehari, lima kali seminggu. Latihan kekuatan dua kali seminggu juga direkomendasikan untuk meningkatkan massa otot dan sensitivitas insulin.
Kelima, lakukan pemeriksaan rutin terhadap faktor risiko, termasuk pengukuran lingkar pinggang, indeks massa tubuh (IMT), kadar gula darah, profil lipid, dan tekanan darah, serta tes fungsi hati dan USG abdomen jika diperlukan.

Pendidikan Dini

Selain itu, dr. Widya menekankan bahwa pencegahan hati berlemak sebaiknya dimulai sejak masa kanak-kanak. North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (NASPGHAN) merekomendasikan skrining hati berlemak pada anak-anak yang mengalami obesitas mulai usia 9–11 tahun, terutama jika mereka memiliki faktor risiko tambahan seperti insulin r resistensi insulin, diabetes, dislipidemia, atau riwayat keluarga dengan penyakit hati berlemak.

“Anak-anak perlu didorong untuk mengonsumsi makanan sehat, meningkatkan aktivitas di luar ruangan, mengurangi waktu menatap layar, tidur yang cukup, serta membatasi konsumsi minuman manis dan makanan ultra-olahan,” ujarnya.
Bagi remaja, pendidikan kesehatan harus mencakup faktor-faktor gaya hidup modern, seperti konsumsi minuman yang sedang tren dan makanan cepat saji, begadang, gaya hidup yang kurang aktif, serta stres yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolik.
Sementara itu, bagi orang dewasa muda, disarankan agar mereka mulai memantau berat badan, lingkar pinggang, tekanan darah, gula darah, dan kadar lipid secara teratur, terutama jika mereka memiliki riwayat keluarga dengan diabetes, obesitas, atau penyakit jantung.

Bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun, deteksi dini harus dilakukan secara lebih aktif, karena risiko berbagai penyakit metabolik meningkat secara signifikan.
Dr. Widya juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap diagnosis “hati berlemak ringan” sebagai hal yang normal.

Menurutnya, kondisi ini dapat berkembang menjadi peradangan hati, fibrosis, sirosis, dan bahkan kanker hati jika tidak ditangani dengan baik.
Di akhir sambutannya, dr. Widya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

“Mencegah penyakit hati berlemak memerlukan kerja sama antar semua pihak karena akan sulit bagi masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat jika makanan yang tinggi gula dan lemak lebih mudah didapat, lebih murah, dan dipromosikan lebih gencar daripada alternatif yang sehat,” pungkasnya.