CORE Memperkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Kuartal Kedua di Bawah 5%

CORE Memperkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Kuartal Kedua di Bawah 5%

CORE Memperkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Kuartal Kedua di Bawah 5%

Taruhan bola – TEMPO.CO, Jakarta – Perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh di bawah 5 persen pada kuartal kedua tahun 2026, menurut Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, karena ketidakpastian global dan tantangan kebijakan dalam negeri terus membebani prospek pertumbuhan negara ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia dijadwalkan merilis data resmi PDB kuartal kedua pada 5 Agustus.

Dalam Laporan Singkat terbarunya: Tinjauan Ekonomi Paruh Tahun CORE 2026, yang berjudul “Bertaruh pada Stabilitas Ekonomi,” lembaga think tank ekonomi independen tersebut menyatakan bahwa Indonesia menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari faktor eksternal maupun domestik selama paruh pertama tahun ini, yang diperkirakan akan menghambat pertumbuhan pada kuartal kedua dan sepanjang tahun 2026.
“Akibatnya, kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua tahun 2026 akan mencapai antara 4,8 persen dan 4,9 persen,” kata CORE dalam laporan yang dirilis pada Sabtu, 1 Agustus.

Tekanan Global dan Domestik Membebani Pertumbuhan

CORE mengatakan bahwa ekonomi Indonesia Omy menghadapi kondisi yang lebih sulit pada paruh pertama tahun 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Meskipun dampak kebijakan tarif balasan AS mulai mereda pada kuartal pertama, konflik yang melibatkan Iran menyebabkan kenaikan harga energi global dan biaya produksi, sehingga melemahkan prospek ekonomi pada kuartal kedua.
Di dalam negeri, lembaga think tank tersebut menyatakan bahwa ketidakpastian seputar pembentukan kebijakan pemerintah juga telah menjadi hambatan signifikan bagi perekonomian, terutama dalam pengelolaan fiskal dan pelaksanaan program-program prioritas pemerintah pusat.

Menurut CORE, perubahan kebijakan yang cepat tanpa disertai komunikasi yang jelas telah menarik perhatian lembaga pemeringkat kredit internasional, termasuk S&P Global Ratings, Fitch Ratings, dan Moody’s Ratings, yang semuanya menyoroti kekhawatiran terkait transparansi dalam tata kelola makroekonomi Indonesia.
Mencerminkan risiko-risiko ini, lembaga-lembaga internasional termasuk Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di kisaran 4,7 persen hingga 5 persen.

Ketidakpastian Kebijakan Mengguncang Keyakinan Investor

CORE juga menyoroti keputusan Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen, dengan menyatakan bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat kemungkinan akan memberikan tekanan tambahan pada perekonomian riil.
Lembaga tersebut berpendapat bahwa ketidakpastian terkait kebijakan ekonomi pemerintah telah melemahkan keyakinan investor. Mereka menyebutkan perubahan kebijakan yang memengaruhi ekspor komoditas strategis, pengurangan dana transfer daerah, serta penyesuaian prioritas fiskal sebagai masalah utama.

Beberapa program unggulan pemerintah, termasuk inisiatif Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan program Koperasi Desa Merah Putih, juga telah mengubah pengelolaan fiskal pemerintah dan berkontribusi terhadap ketidakpastian kebijakan, kata CORE.
Untuk sepanjang tahun, CORE memproyeksikan perekonomian Indonesia akan tumbuh sebesar 4,9 persen hingga 5,1 persen, di bawah target pertumbuhan pemerintah sebesar 5,4 persen untuk tahun 2026.
Lembaga think tank tersebut menyatakan bahwa kerentanan yang terus berlanjut baik di perekonomian global maupun domestik kemungkinan besar akan terus membebani pertumbuhan sepanjang paruh kedua tahun ini, sehingga menyulitkan Indonesia untuk mencapai target resminya.