Indonesia: Seruan Uskup untuk Membangun Persaudaraan Imam

Indonesia: Seruan Uskup untuk Membangun Persaudaraan Imam

Indonesia: Seruan Uskup untuk Membangun Persaudaraan Imam

Liga335 – Di tengah-tengah persiapan Pekan Suci, Gereja di Larantuka berkumpul untuk Misa Krisma, memperbarui kaul imamat, serta memperkuat persatuan dalam misi dan harapan.

Oleh Pastor Mark Robin Destura RCJ

Baca juga 25/03/2026 Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi ke-57 Dicastery for Communication dan Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia€™ Konferensi Waligereja Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama untuk memasukkan Bahasa Indonesia sebagai .
“Imamat tidak dapat dijalani dalam isolasi,” kata Uskup Yohanes Hans Monteiro dalam homilinya, sambil mencatat bahwa kesepian dapat menyebabkan jarak, ketegangan, dan bahkan luka di dalam presbiterat.
Keuskupan Larantuka merayakan Misa Krisma pada Kamis Putih pagi, 2 April 2026, di Katedral Larantuka di Indonesia, dengan kehadiran Uskup Emeritus Franciskus Kopong Kung, yang mempertemukan para imam, biarawan/biarawati, dan umat dalam ungkapan persatuan yang khidmat.

Berbagi dalam misi Kristus

Merenungkan Injil Yesus di Nazaret Dalam khotbahnya, Uskup tersebut menekankan identitas Kristus sebagai Yang Diurapi yang diutus untuk membawa pembebasan. “Pengurapan ini tidak hanya berbicara tentang identitas, tetapi juga tentang misi,” katanya, sambil mencatat bahwa Kristus diutus “untuk membawa kabar baik kepada orang-orang miskin, membebaskan yang tertindas, dan memulihkan martabat manusia.”
Ia mengingatkan para imam bahwa mereka turut serta dalam pengurapan yang sama melalui pelayanan mereka.

“Ketika mereka memberkati minyak, mengurapi umat beriman, dan melayani yang terluka, Kristus sendiri hadir dan bekerja,” katanya.
Uskup mendorong para imam untuk tetap setia pada panggilan ini dan gigih dalam pelayanan mereka kepada umat Allah.

Makna minyak suci

Selama perayaan, tiga jenis minyak suci diberkati: minyak katekumen, minyak orang sakit, dan krisma suci. Setiap minyak memiliki makna yang mendalam dalam kehidupan sakramental Gereja.
Minyak katekumen melambangkan kekuatan bagi mereka yang bersiap untuk memeluk iman, minyak orang sakit melambangkan penyembuhan dan penghiburan, dan krisma suci melambangkan pengudusan dan misi.

Uskup menjelaskan bahwa pengudusan minyak suci melambangkan pencurahan Roh Kudus, yang mengingatkan pada Kristus yang telah bangkit yang menghembuskan nafas-Nya ke atas para rasul. Melalui tindakan ini, Gereja percaya bahwa Roh Kudus menguduskan minyak tersebut, menjadikannya saluran rahmat bagi umat beriman.

Panggilan kepada persaudaraan imamat

Tema sentral homili adalah pentingnya persaudaraan imamat.
Uskup Monteiro memperingatkan akan bahaya isolasi dalam pelayanan, terutama di keuskupan yang diwarnai oleh tantangan geografis dan sumber daya yang terbatas. Ia mendesak para imam untuk menumbuhkan persaudaraan melalui keterbukaan, kerendahan hati, dan dukungan timbal balik.

“Imam yang kehilangan persaudaraannya akan secara bertahap kehilangan Roh yang menghidupkan panggilan mereka,” ia memperingatkan.

Gereja yang dekat dengan umat

Uskup juga merenungkan realitas sehari-hari umat di keuskupan, termasuk nelayan, petani, buruh, dan keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi.
Ia menekankan bahwa Gereja harus menjadi c tanda harapan yang nyata dalam situasi-situasi ini. “Gereja dipanggil untuk menjadi tanda harapan yang nyata,” katanya, sambil mendorong pelayanan pastoral dan inisiatif-inisiatif yang memajukan martabat manusia serta dukungan ekonomi.

Ia juga menyoroti tradisi-tradisi lokal yang terkenal seperti Semana Santa Larantuka sebagai ungkapan iman yang mempersatukan komunitas sebagai “peziarah harapan.

Dibaharui dalam misi dan harapan

Menutup homilinya, Uskup Monteiro mengajak para imam untuk kembali ke sumber panggilan mereka: pengurapan Roh Kudus.
“Dunia tidak membutuhkan imam yang sempurna, tetapi imam yang setia,” katanya, sambil mendorong mereka untuk hidup dalam persaudaraan dan membawa harapan kepada orang-orang yang mereka layani.