Indonesia Membantah Laporan Mengenai Pembatasan Penerbangan Internasional
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Perhubungan Indonesia membantah kabar yang beredar mengenai penghentian seluruh penerbangan internasional akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah sebagai dampak dari konflik Iran-Israel. “Berita tersebut tidak benar,” kata Lukman F.
Laisa, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, seperti dikutip dari pernyataan tertulis pada Rabu, 18 Maret 2026. Lukman menyatakan bahwa Kementerian Perhubungan terus memantau penerbangan internasional ke negara-negara Timur Tengah. Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan penumpang berjalan dengan aman dan terkoordinasi, termasuk bagi penumpang yang terdampar.
Per 17 Maret 2026 pukul 10.30 WIB, Kementerian Perhubungan mencatat bahwa dua pesawat masih tertahan di Indonesia. Keduanya adalah pesawat Qatar Airways, dengan satu unit di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, dan satu unit di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali.
Lukman menambahkan bahwa beberapa wilayah udara di kawasan yang terdampak telah mulai dibuka kembali, termasuk Uni Emirat Arab. Seiring dengan pembukaan kembali ini, beberapa maskapai penerbangan telah kembali beroperasi, meskipun dengan kapasitas terbatas. Misalnya, Emirates telah mengoperasikan penerbangan terbatas ke dan dari Jakarta serta Denpasar.
Namun, operasi maskapai tersebut terganggu pada 16 Maret 2026 akibat masalah di fasilitas penyimpanan bahan bakar Bandara Dubai, yang mengakibatkan penundaan dan penyesuaian jadwal. Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa penanganan penumpang yang terdampak terus berlanjut, termasuk pengangkutan bertahap bagi penumpang yang sebelumnya terlantar. “Etihad Airways dilaporkan juga telah kembali mengoperasikan penerbangan terbatas.
Maskapai tersebut berencana meningkatkan frekuensi sebagai bagian dari langkah-langkah darurat, terutama untuk rute Jakarta dan Denpasar ke Abu Dhabi,” kata Lukman. Sementara itu, Qatar Airways telah mengoperasikan penerbangan repatriasi sejak 8 Maret 2026, dan telah mulai secara bertahap membuka kembali layanan terbatas dari Jakarta. Beberapa opsi telah.
n yang ditawarkan kepada penumpang yang terdampak, termasuk jemaah umrah, seperti pengembalian uang, penjadwalan ulang, dan pengalihan penerbangan ke maskapai lain. Lukman menyatakan bahwa per 16 Maret 2026, tidak ada lagi penumpang yang terlantar di Jeddah yang ditangani oleh Qatar Airways. Selain itu, Lukman menyebutkan bahwa penerbangan langsung ke Arab Saudi yang dioperasikan oleh Saudi Arabian Airlines, Garuda Indonesia, Lion Air, dan Flyadeal tetap beroperasi normal dan tidak terpengaruh oleh konflik tersebut.
Selain itu, penerbangan tidak langsung melalui negara ketiga, yang dilayani oleh berbagai maskapai internasional, telah kembali normal dan siap memenuhi kebutuhan perjalanan para penumpang. “Masyarakat diimbau untuk memantau informasi resmi dari maskapai penerbangan dan otoritas terkait serta menyesuaikan rencana perjalanan sesuai dengan perkembangan terkini,” katanya.