AI: Arsitektur baru kesuksesan proyek

AI: Arsitektur baru kesuksesan proyek

AI: Arsitektur baru kesuksesan proyek

Liga335 – Bret Tushaus, Wakil Presiden Produk di Deltek, membahas peran yang semakin penting dari kecerdasan buatan (AI) dalam lingkungan bangunan dan cara mengintegrasikan teknologi ini ke dalam proyek konstruksi. Terkadang, transformasi paling mendalam dalam suatu industri dapat terdeteksi melalui perubahan kecil dalam percakapan sehari-hari. “Biarkan saya lihat apakah AI dapat membantu dengan ini” telah menjadi frasa yang sama umum dalam manajemen proyek konstruksi seperti “biarkan saya periksa jadwal.

” Ini adalah pergeseran yang halus namun signifikan, menandakan evolusi seiring dengan percepatan menuju 2025. Dengan hanya seperempat perusahaan saat ini berada pada tahap ‘lanjutan’ atau ‘matang’ dalam kematangan digital, peluang untuk transformasi sangat besar. Peran AI yang semakin besar Selama beberapa tahun terakhir, integrasi bertahap AI ke dalam tugas-tugas manajemen proyek rutin telah menandai evolusi signifikan dalam cara perusahaan arsitektur, teknik, dan konstruksi (AEC) beroperasi.

Transformasi ini semakin berakselerasi, didorong oleh kompleksitas proyek yang semakin tinggi dan kebutuhan akan efisiensi yang lebih besar. Efisiensi. Dengan mengotomatisasi proses penjadwalan, pelacakan waktu, dan kepatuhan, organisasi dapat memperlancar operasional dan mengalihkan sumber daya manusia yang berharga ke aktivitas strategis.

Teknologi AI seperti ini telah terbukti sangat powerful dalam bidang analitik prediktif. Sistem-sistem ini kini mampu memprediksi potensi keterlambatan dan kelebihan anggaran dengan akurasi yang mengesankan, memungkinkan manajemen proyek yang proaktif daripada reaktif. Penerima manfaat awal telah menikmati manfaat substansial, melaporkan perbaikan signifikan dalam jadwal penyelesaian proyek dan ketepatan anggaran.

Evolusi berikutnya akan berupa sistem canggih yang tidak hanya dapat memprediksi masalah, tetapi juga secara otomatis mengusulkan dan menerapkan solusi dalam parameter yang telah disetujui sebelumnya. Menyeimbangkan kemampuan AI dengan keahlian manusia Untuk mewujudkan potensi ini, implementasi AI bergantung pada literasi AI yang luas di seluruh organisasi. Tim harus memahami baik kemampuan maupun batasan AI untuk memanfaatkannya secara efektif.

Oleh karena itu, manajemen proyek. Manajer semakin berperan sebagai strategis teknologi, yang diharuskan memahami prinsip-prinsip manajemen tradisional dan kemampuan sistem kecerdasan buatan (AI). Keahlian hibrida ini sangat penting untuk mengambil keputusan yang terinformasi tentang kapan harus mengandalkan otomatisasi dan kapan penilaian manusia menjadi prioritas utama.

Akibatnya, program pelatihan dan pengembangan berkelanjutan pun berkembang sesuai dengan kebutuhan, dengan fokus pada pembentukan tim yang dapat bekerja secara efektif bersama alat AI sambil tetap mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan pengambilan keputusan mereka. Alat seperti Deltek’s Dela menunjukkan bagaimana AI dapat memperkuat rather than menggantikan kemampuan manusia dalam manajemen proyek. Ke depan, fokus harus tegas pada menciptakan sistem yang mendukung kolaborasi manusia-AI yang efektif.

Ini berarti mengembangkan antarmuka yang membuat alat AI dapat diakses oleh pengguna non-teknis, serta menetapkan proses yang jelas untuk menaikkan keputusan dari sistem otomatis ke ahli manusia ketika diperlukan. Setiap transformasi dalam cara AI dimanfaatkan Harus melampaui tugas-tugas individu untuk mencakup seluruh siklus hidup proyek. Sistem AI modern kini mampu mengelola persyaratan kepatuhan yang kompleks, memantau protokol keselamatan, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya, semuanya secara real-time.

Kemampuan ini sangat berharga di industri di mana persyaratan regulasi semakin rumit dan margin kesalahan semakin sempit. Mengelola risiko dan inovasi Organisasi yang menetapkan protokol yang jelas untuk penerapan AI akan lebih siap untuk sukses. Pertimbangan privasi dan keamanan data juga akan semakin penting dalam lanskap yang didorong oleh AI ini.

Seiring perusahaan mengintegrasikan alat-alat teknologi yang lebih canggih ke dalam operasinya, memahami detail syarat dan ketentuan sistem-sistem ini menjadi krusial. Keamanan data proyek naik level dari pertimbangan IT menjadi keharusan bisnis yang memerlukan perhatian di setiap tingkatan organisasi. Setiap kemajuan teknologi memerlukan.

Pendekatan yang hati-hati dan terukur dalam implementasi. Seiring dengan kemajuan industri dalam adopsi AI, organisasi yang menetapkan protokol yang jelas untuk penempatan AI, pemantauan penggunaan, dan audit sistem secara berkala akan memastikan penggunaan yang bertanggung jawab dan tetap sejalan dengan nilai-nilai organisasi dan standar industri. Pada akhirnya, kesuksesan akan berpihak pada organisasi yang memandang AI sebagai pelengkap keahlian manusia, bukan pengganti.

Masa depan yang ditandai oleh kolaborasi Penelitian kami menunjukkan bahwa 67% perusahaan memperkirakan akan kehilangan pangsa pasar dalam dua tahun jika mereka gagal membuat kemajuan signifikan dalam transformasi digital. Ini berarti menciptakan kerangka kerja yang mendukung integrasi teknologi sambil mempertahankan penilaian manusia yang selalu menjadi inti keberhasilan pengiriman proyek. Tantangan—dan peluang—terletak pada pemanfaatan teknologi ini sambil secara hati-hati mempertahankan keahlian manusia yang selalu menjadi esensial bagi keberhasilan proyek.

Melalui kolaborasi yang seimbang, Dengan keseimbangan yang tepat, organisasi dapat menciptakan sistem manajemen proyek yang lebih efisien, aman, dan efektif, yang menghasilkan hasil yang lebih baik bagi semua pemangku kepentingan. Seiring kita melangkah ke tahun 2025, fokus harus tetap pada penciptaan nilai melalui integrasi yang cermat, bukan sekadar mengadopsi setiap inovasi baru secara terburu-buru. Menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi saja tidak cukup; yang penting adalah membangun kemampuan organisasi untuk menggunakannya secara efektif dan bertanggung jawab.

Kesuksesan akan bergantung pada pembangunan fondasi yang kuat dalam literasi AI di seluruh organisasi. Pada gilirannya, sektor ini akan dibentuk oleh organisasi yang memanfaatkan kekuatan kecerdasan buatan sambil memahami bahwa hanya wawasan manusia yang dapat mengubah kemampuan teknologi menjadi kesuksesan proyek.