Polwan Beri Dukungan Pemulihan Trauma Anak-Anak Terdampak Bencana

cvtogel – Di bawah tenda pengungsian yang dipenuhi suara angin dan langkah kaki relawan, tawa kecil perlahan terdengar. Seorang polisi wanita berjongkok, mengajak anak-anak bernyanyi sambil bertepuk tangan. Di sela permainan sederhana itu, ada misi yang lebih besar: memulihkan rasa aman anak-anak yang terdampak bencana.

Para Polwan dari Kepolisian Negara Republik Indonesia turun langsung memberikan dukungan pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak-anak di lokasi pengungsian. Pendekatannya lembut, penuh empati, dan disesuaikan dengan dunia anak—jauh dari kesan seragam yang kaku.

Anak-Anak dan Luka yang Tak Terlihat

Bencana tidak hanya merusak rumah dan lingkungan. Ia juga meninggalkan luka psikologis, terutama pada anak-anak. Tangis di malam hari, ketakutan pada suara keras, dan keengganan berpisah dari orang tua menjadi tanda-tanda trauma yang kerap muncul.

“Anak-anak sering tidak bisa menjelaskan apa yang mereka rasakan,” ujar seorang Polwan pendamping. “Tugas kami membantu mereka merasa aman dulu.”

Pemulihan trauma pada anak menuntut pendekatan khusus—tidak menggurui, tidak memaksa, dan tidak mengingatkan pada peristiwa traumatis secara langsung.

Bermain sebagai Jalan Pemulihan

Alih-alih sesi konseling formal, Polwan menggunakan bermain, menggambar, bercerita, dan bernyanyi sebagai medium pemulihan. Aktivitas ini membantu anak mengekspresikan emosi secara alami dan membangun kembali rasa percaya.

Seorang anak terlihat ragu di awal. Namun setelah diajak menggambar rumah impiannya, ia mulai bercerita. “Aku mau rumah yang tidak kebanjiran,” katanya pelan. Bagi pendamping, kalimat sederhana itu adalah langkah besar.

“Kalau anak sudah mau bercerita, itu tanda mereka mulai pulih,” ujar seorang relawan psikososial.

Seragam yang Menenangkan

Kehadiran Polwan memberi nuansa berbeda. Seragam yang biasanya identik dengan ketegasan, kali ini hadir dengan senyum, suara lembut, dan kesabaran. Anak-anak memanggil mereka “Bu Polisi”, lalu berani menggandeng tangan.

Bagi orang tua, pemandangan itu menguatkan. “Anak saya jadi lebih ceria,” kata Siti, ibu pengungsi. “Dia tidak lagi menangis terus.”

Peran Polwan di sini melampaui fungsi keamanan—menjadi pelindung psikologis bagi generasi paling rentan.

Pendekatan Humanis Aparat

Kegiatan trauma healing ini merupakan bagian dari pendekatan humanis kepolisian dalam penanganan bencana. Selain membantu pengamanan dan distribusi bantuan, Polwan difokuskan pada kelompok rentan: anak-anak, perempuan, dan lansia.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kehadiran aparat di tengah bencana bukan hanya soal ketertiban, tetapi juga kepedulian dan pemulihan sosial.

Kolaborasi untuk Anak

Dalam pelaksanaannya, Polwan berkolaborasi dengan guru, relawan, dan tenaga kesehatan. Sinergi ini memastikan kegiatan sesuai dengan kebutuhan lokal dan budaya setempat.

“Kami belajar dari para relawan,” ujar seorang Polwan. “Yang penting anak-anak nyaman.”

Kolaborasi ini juga membantu mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan pendampingan lanjutan.

Menumbuhkan Rasa Aman Kembali

Pemulihan trauma bukan proses singkat. Namun kehadiran yang konsisten, interaksi positif, dan lingkungan yang suportif menjadi fondasi penting. Melalui kegiatan sederhana, Polwan membantu anak-anak membangun kembali rasa aman—bahwa dunia tidak sepenuhnya menakutkan.

Di akhir kegiatan, anak-anak berbaris kecil, melambaikan tangan. “Besok datang lagi ya,” kata seorang bocah.

Menjaga Masa Depan di Tengah Bencana

Anak-anak adalah masa depan komunitas yang terdampak bencana. Menjaga kesehatan mental mereka sama pentingnya dengan membangun kembali rumah dan jalan.

Melalui sentuhan empati Polwan, trauma pelan-pelan dilunakkan. Di antara tenda dan puing, tumbuh kembali senyum—sebagai tanda bahwa pemulihan telah dimulai.

Dan di sanalah peran kemanusiaan aparat menjadi nyata: melindungi bukan hanya wilayah, tetapi juga perasaan dan harapan anak-anak.